Kepercayaan: Kunci Lansia Berdaya

Haryanti Suheri
(Peserta Apresiasi Kepenulisan PGC Foundation)

Islam menempatkan kedudukan orang tua dan lansia pada tempat yang sangat mulia. Pemuliaan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari akhlak seorang Muslim. Rasulullah SAW melalui hadisnya, sering menekankan pentingnya menghormati orang yang lebih tua. Salah satu riwayat yang masyhur,  terdapat riwayat dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, yang juga sering dikaitkan dengan adab terhadap yang lebih tua. Rosululloh bersabda: "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak merahmati yang muda dari kami dan tidak memuliakan orang tua dari kami (HR. Tirmidzi)." 

Ini menunjukkan bahwa memuliakan orang yang lebih tua, termasuk lansia, adalah ciri dari seorang Muslim Sejati Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua, terutama ketika mereka mencapai usia lanjut. Allah SWT berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al-Isra': 23). Ayat ini menjadi fondasi utama  perlakuan kita terhadap lansia, menekankan kelembutan bahasa dan sikap.
       
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita berhadapan dengan dilema saat berinteraksi dengan orang tua atau lansia kita. Tanpa sadar, kita cenderung enggan meminta bantuan atau sekadar melibatkan mereka dalam urusan kecil, dengan dalih takut merepotkan mereka. Kita berpikir bahwa melindungi mereka dari pekerjaan atau masalah adalah bentuk bakti kepada mereka.
     
Ketakutan "merepotkan" ini seringkali menciptakan jarak dan kesenjangan komunikasi. Kita mengambil alih semua tugas, membuat keputusan tanpa konsultasi, dan membatasi ruang gerak mereka. Tindakan ini, yang awalnya dimaksudkan sebagai kebaikan, justru dapat membuat para lansia merasa tidak berguna, atau kehilangan peran.
       
Tidak ada katarsis tempat menumpahkan kelelahannya. Dulu saat belahan jiwanya masih ada disampingnya, kerikil- kerikil kehidupan yang dialami bisa dibagi berdua. Mencari solusi bersama, bertukar pikiran saling menimbang. Kini, beban itu harus ditanggungnya sendiri. Ada hal- hal yang tak bisa sembarang orang bersedia menjadi pendengarnya, atau yang dapat dipercaya.
    
Ia berusaha melakukan apapun sebatas kekuatan yang ia bisa. Ya. Hanya kekuatan tersedia seadanya yang dia siapkan untuk bisa mempersembahkan keberadaannya kepada sekitarnya.  Menghilangkan rasa tidak enak & kurang nyaman dengan kondisi lemahnya.
       
Ketika dia dipercaya melakukan sesuatu, memenuhi permintaan yang membutuhkan kehadirannya, rasa bahagia itu membangkitkan lagi semangat hidupnya
       
Dia akan kecewa dan menangis tertahan bila keponakannya datang tanpa kabar. Karena kehilangan moment menampilkan keberadaannya, kebermanfaatannya  dengan membuatkan 1 loyang kue andalannya. Kue jadul yang selalu dipuji siapapun yg memakannya
 Karena itulah ketika cucunya bilang “Oma... Bubur manadonya enak, mau dong Oma buatkan untuk aku”. Dengan mata berbinar  dan hati membuncah bahagia disiapkan semuanya untuk permintaan pertaruhan eksistensi, bahwa aku masih dibutuhkan. Dan Oma akan menjaga permintaan siapapun orang yang membutuhkan kehadirannya untuk dipenuhi sekuat daya.
 Ada lagi cerita Oma yang  tidak tahu berita apapun tentang anaknya yang sedang operasi dan dirawat berhari-hari. Maksud hati si anak tidak ingin merepotkan karena kasihan sudah sepuh. Di sisi lain sang Oma merasa tidak dibutuhkan dan dianggap penting.

Lain lagi kisah seorang Oma yang mengaku terharu ketika dia sebagai tetangga dipamiti mau berangkat ke rumah sakit, minta didoakan diberikan kemudahan proses kelahiran anaknya. Padahal secara nasab tidak ada hubungan darah. Lihatlah betapa mereka amat bahagia merasa berperan, diposisikan seperti keluarga,  sebagai orang yang berarti. So, jangan over thinking apa yang kita sampaikan akan memberatkan mereka. 
 Pada lansia yang berdaya, terdapat kisah inspiratif tentang kearifan, semangat, dan hidup yang terus berharga hingga akhir. Saatnya kita membalik narasi penuaan: dari masa  berhenti, menjadi masa berkontribusi yang baru

 #Narasiuntuksivilisasi

Tag :  

Popular Artikel
Senangnya Sekolah di SDIT IQRO
Oleh : Nafeeza Syifaa Kamila, Kelas 6C Bismillah... Saya adalah salah satu murid SDIT IQRO yan..
Aku Adalah Seorang Guru
Oleh : Mutiah Madani, S.Pd.I Aku Adalah Seorang Guru Biasa Tak Ada Kelebihan yang Perlu Dibanggak..
Berlibur ke Rumah Nenek dan Kakek
Karya: Sheila Salsabila Kelas: 2B Pada minggu ke dua liburan, aku diantar ke rumah nenek untuk b..