Kenangan Liqo dan Dakwah Era 1983–2004, Murobiku Ustadz Rahmat Abdullah

Oleh : Ustadz Sunu Sumartono, S.H

Beliau hadir dalam kehidupan kami ketika masih muda dan masih bujangan. Penampilannya sederhana. Rambut agak gondrong, berbaju dan bercelana jeans. Tidak tampak seperti tokoh besar yang kelak akan melahirkan banyak kader dakwah. Namun dari kesederhanaan itulah terpancar semangat, keberanian, dan cita-cita besar untuk membangun umat.

Liqo pada masa itu berlangsung dalam suasana yang sangat berbeda dengan sekarang. Tidak ada gedung megah, tidak ada publikasi, tidak ada media sosial, bahkan sering kali tidak ada tanda-tanda bahwa di tempat itu sedang berlangsung pembinaan umat.
Kadang liqo dilakukan di ruang kecil dekat dapur. Kadang di ruang tengah rumah keluarga yang sederhana. Pesertanya hanya beberapa orang. Yang hadir saling mengenal dan menjaga amanah. Sedapat mungkin pertemuan itu tidak diketahui orang lain, kecuali peserta liqo dan sang murobi.

Bukan karena ada sesuatu yang disembunyikan, tetapi karena dakwah saat itu lebih memilih bekerja dalam ketenangan. Fokusnya adalah membangun manusia, bukan mencari perhatian. Yang dipentingkan bukan ramainya kegiatan, tetapi lahirnya pribadi-pribadi yang memiliki iman, ilmu, akhlak, dan komitmen perjuangan.

Suasananya hangat dan akrab. Duduk melingkar di atas lantai. Terkadang ditemani teh hangat dan makanan sederhana. Tidak ada fasilitas yang istimewa. Namun pembicaraan yang lahir di ruangan kecil itu mampu mengubah cara pandang hidup, membangkitkan semangat beribadah, dan menanamkan cita-cita besar untuk berkontribusi bagi Islam dan masyarakat.

Dakwah pada era 1985 sampai 2004 ibarat aliran air yang tenang. Tidak gaduh, tidak mencari sorotan, tidak mengejar popularitas. Namun air itu terus mengalir dari satu hati ke hati yang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Seperti gelombang air yang senyap dan sepi. Tidak terdengar riuhnya, tetapi alirannya terus bergerak. Sedikit demi sedikit mengisi parit, sungai, dan akhirnya membanjiri banyak tempat. Hasil liqo tidak berhenti pada peserta yang hadir. Nilai-nilai yang ditanamkan diwariskan kepada keluarga, sahabat, masyarakat, dan kader-kader berikutnya.

Dari ruang-ruang kecil yang nyaris tak terlihat itu lahir banyak aktivis, guru, pemimpin, profesional, dan penggerak masyarakat. Mereka mungkin berbeda profesi dan tempat pengabdian, tetapi membawa ruh yang sama: keikhlasan, kesungguhan, ukhuwah, dan semangat melayani umat.

Kini, ketika mengenang masa-masa itu, yang teringat bukan kemegahan sarana atau banyaknya peserta. Yang teringat justru kesederhanaan, kedekatan, dan ketulusan. Ruang kecil di pojok dapur itu mungkin sempit secara ukuran, tetapi ternyata sangat luas dalam melahirkan gagasan, harapan, dan kader-kader dakwah yang pengaruhnya terus terasa hingga hari ini.

Tag :  

Popular Artikel
Senangnya Sekolah di SDIT IQRO
Oleh : Nafeeza Syifaa Kamila, Kelas 6C Bismillah... Saya adalah salah satu murid SDIT IQRO yan..
Aku Adalah Seorang Guru
Oleh : Mutiah Madani, S.Pd.I Aku Adalah Seorang Guru Biasa Tak Ada Kelebihan yang Perlu Dibanggak..
Berlibur ke Rumah Nenek dan Kakek
Karya: Sheila Salsabila Kelas: 2B Pada minggu ke dua liburan, aku diantar ke rumah nenek untuk b..