Hari Ini, Aku Bertemu Guru - Guru Kecil Dan Aku Muridnya

Oleh: Abu Sabiq

Hari ini, selepas sholat Jumat, masjid masih menyisakan sunyi yang syahdu.
Sebagian jamaah telah pulang, sebagian lagi duduk berzikir, dan aku memilih bertahan sejenak—membuka mushaf, melanjutkan tilawah yang tadi sempat terhenti.

Suara ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirku. Hening. Khidmat. Damai.

Namun di sela-sela kekhusyukan itu, terdengar bunyi gesekan-gesekan dan tumpukan buku yang dipindah-pindahkan. Percakapan-percakapan khas anak-anak. Awalnya aku mengernyit. Sedikit terusik. Dalam hati bertanya, siapa yang ribut setelah Jumat begini?

Ketika kuangkat wajah, kulihat tiga anak SD masih mengenakan seragam. Mereka berdiri di depan rak mushaf, sibuk membongkar-bongkar tumpukan Al-Qur’an yang memang sejak tadi kulihat tak rapi.

Sesaat aku terdiam.

Kuperhatikan lebih saksama.
Ternyata bukan membongkar untuk bermain.
Mereka sedang membereskan. Menyusun. Merapikan satu per satu mushaf yang miring, yang tertindih, yang terbalik. Tangan-tangan kecil itu bekerja pelan tapi penuh kesungguhan.

Aku mendekat dan bertanya,
“Siapa yang menyuruh kalian?, disuruh sekolah / guru?”

Mereka menjawab ringan, tanpa beban:
“Tidak ada, Pak. Tadi lihat berantakan, jadi diberesin saja. Inisiatif kami aja.”

Sederhana.
Tidak ada program sekolah.
Tidak ada instruksi guru.
Tidak ada kamera.
Tidak ada tepuk tangan.

Atas inisiatif sendiri.

Di situ dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tak mudah dijelaskan. Terharu. Bangga. Malu. Bahagia. Semua bercampur menjadi satu.

Di zaman hari ini—di mana inisiatif sering diganti pencitraan, ketulusan sering kalah oleh kepentingan, dan dunia terasa penuh kemunafikan serta kepalsuan—aku justru melihat teladan lahir dari tiga anak kecil berseragam polos.

Dunia ini sering terasa kering. Haus.
Haus akan tindakan nyata, walau sederhana.
Haus akan kepedulian yang tidak menunggu sorotan.

Dan yang lebih menamparku—jujur saja—aku sendiri tadi melihat tumpukan mushaf itu berantakan. Tapi aku tidak tergerak. Aku memilih melanjutkan tilawahku.

Hari ini aku sedang membaca ayat-ayat Allah.
Tapi mereka sedang mengamalkannya.

Aku merasa dihibur.
Sekaligus diajari.

Tanpa ceramah.
Tanpa teori.
Tanpa panggung.

Aku spontan ingin memberi sesuatu. Bukan sebagai balas jasa—karena ketulusan mereka tak mungkin terbayar. Tapi sebagai ungkapan terima kasihku karena telah diberi pelajaran berharga siang itu.

Masalahnya, aku tak membawa uang.
Tak ada hadiah.
Tak ada apa-apa.

Akhirnya, dengan sedikit nekat, aku menelpon warung sebelah. Meminta dikirimkan kue, bahkan dengan hutang. Rasanya sedikit lucu—memberi hadiah dengan uang yang belum kumiliki.

Ketika kue itu kuberikan, mereka tersenyum polos. Mungkin bagi mereka itu sekadar jajanan biasa.

Tapi bagiku, kue itu bukan tanda terima kasih atas kerja mereka.
Karena hadiah itu jauh dari layak. Tak sepadan.

Kue itu adalah ungkapan syukurku.
Bahwa Allah masih memperlihatkan padaku cahaya kecil di tengah dunia yang sering terasa redup.

Aku pulang dengan hati yang hangat.

Dan dalam hati aku berkata,
“Sangat beruntunglah sekolah yang memiliki murid-murid seperti ini.”

Sangat beruntunglah SDIT Iqro,
karena di sana bukan hanya ilmu yang tumbuh,
tetapi juga kepedulian.

Hari ini,
aku bertemu guru-guru kecil.

Dan aku muridnya.

Tag :  

Popular Artikel
Senangnya Sekolah di SDIT IQRO
Oleh : Nafeeza Syifaa Kamila, Kelas 6C Bismillah... Saya adalah salah satu murid SDIT IQRO yan..
Aku Adalah Seorang Guru
Oleh : Mutiah Madani, S.Pd.I Aku Adalah Seorang Guru Biasa Tak Ada Kelebihan yang Perlu Dibanggak..
Berlibur ke Rumah Nenek dan Kakek
Karya: Sheila Salsabila Kelas: 2B Pada minggu ke dua liburan, aku diantar ke rumah nenek untuk b..